Sunday, February 28, 2010

Nabi Isa tidak akan turun ?


tyo on 
Apakah benar Nabi Isa a.s. meninggal disalib dan diangkat oleh Allah ke langit dan akan turun kembali ke bumi untuk menghancurkan salib-salib ? (Syahid)
Menurut informasi yang didapatkan dalam kitab suci Al Quran, Nabi Isa tidak meninggal karena disalib seperti yang diyakini umat Kristiani.
Yang disalib adalah orang yang berkhianat pada Nabi Isa dan dia diserupakan seperti Nabi Isa a.s.
Silakan perhatikan ayat berikut, Dan karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (Q.S. An-Nisaa 4: 157).
Tetapi yang sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Q.S. An-Nisaa 4: 158)
Kalimat Allah telah mengangkat Isa mengandung beberapa makna. Ada sebagian umat Islam yang memahami redaksi tersebut secara harfiah, mereka percaya bahwa Nabi Isa belum mati dan sekarang masih hidup di langit dan suatu saat akan turun ke bumi untuk meluruskan kekeliruan- kekeliruan umatnya.
Pendapat ini dikuatkan juga dengan sejumlah hadis. Namun, kalau kita telaah secara saksama, ternyata hadis-hadis tersebut semuanya bermuara pada dua orang perawi, yaitu Ka’ab al-Ahbar dan Wahab bin Munabbin.
Kedua orang tersebut mantan penganut agama Kristen. Di antara ulama hadis, ada yang menilai bahwa informasi tentang kehidupan Nabi Isa di langit dan akan turun ke bumi pada hakikatnya bersumber dari sisa kepercayaan kedua perawi tersebut.
Ustadz Sayyid Quthb mengingatkan bahwa dalam permasalahan yang berhubungan dengan keimanan, terutama masalah-masalah yang gaib seperti persoalan Nabi Isa a.s., riwayat-riwayatnya harus berlandaskan pada dalil-dalil yang sangat kuat atau qath’i, bahkan status periwayatannya harus mencapai derajat mutawatir. Ternyata, menurut penelitian para ahli hadis, semua riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi Isa a.s. belum wafat dan akan turun lagi ke bumi tidak mencapai derajat mutawatir.
Apabila riwayat-riwayatnya sulit dipertanggungjawabkan maka makna Allah mengangkat Isa harus kita pahami sebagai bahasa majazi (kiasan). Menurut Ustadz Quraish Shihab, ayat ke-55 dalam Surat Ali Imran yang berbunyi …Dan Aku (Allah) akan mengangkatmu ke sisi-Ku… bukanlah dalam pengertian diangkat fisiknya, melainkan di angkat derajatnya ke sisi Allah.
Apakah Nabi Isa a.s masih hidup? Allah swt. menegaskan dalam Surat Ali Imran ayat 55, (Ingatlah), ketika Allah berfirman, “Hai Isa, sesungguhnya aku mutawaffiika dan mengangkat kamu kepada-Ku” (Q.S. Ali Imran 3: 55). Makna mutawaffika adalah mewafatkan.
Jadi, cukup jelas bahwa Nabi Isa a.s telah wafat dan derajatnya diangkat di sisi Allah.
Kesimpulannya, semua riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi Isa belum wafat dan akan turun ke bumi bermuara pada perawi yang bernama Ka’ab al-Ahbar dan Wahab bin Munabbih dan keduanya pernah beragama Kristen.
Sementara, Surat Ali Imran ayat ke-55 begitu tegas menyebutkan bahwa Nabi Isa telah wafat. Orang yang telah wafat hanya akan dibangkitkan pada hari kebangkitan dan tidak ada satu ayat pun yang menjelaskan bahwa Nabi Isa akan dibangkitkan sebelum kiamat dan akan turun lagi ke bumi.
Wallahu a’lam.


Jawapan konkrit terhadap persoalan di atas:


Diangkatnya Nabi Isa عليه السلام dan akan turunnya beliau di akhir zaman merupakan aqidah para shahabat, para tabi’in, para ulama serta para imam Ahlus Sunnah sepanjang zaman.
Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Telah mutawatir hadits-hadits dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم bahwa Nabi Isa عليه السلام akan turun sebelum hari kiamat sebagai imam yang adil dan hakim yang bijaksana (Tafsir Ibnu Katsier, juz 7 hal. 223)

Berkata Shiddiq Hasan Khan: “Hadits-hadits tentang turunnya Isa عليه السلام sangat banyak. Telah disebutkan oleh Imam Asy-Syaukani, di antaranya ada 29 hadits antara shahih, hasan dan hadits lemah yang terdukung. Di antaranya ada yang disebut bersama kisah Dajjal, ada pula yang disebut bersama hadits-hadits tentang Imam Mahdi, ditambah lagi atsar-atsar yang diriwayatkan oleh para shahabat yang tentunya memiliki hukum marfu’ (sampai kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم), karena perkara Dajjal bukanlah masalah ijtihad”. Kemudian beliau menyebutkan semua hadits tentang Dajjal. Setelah itu beliau رحمه الله berkata: “Seluruh apa yang kami nukilkan ini telah mencapai derajat mutawatir sebagaimana dipahami oleh orang-orang yang memiliki ilmu” (Al-Idza’ah, hal. 160, melalui nukilan Yusuf al-Waabil dalam Asyratu as-Sa’ah)

Telah ditulis oleh para ulama hadits tentang Isa عليه السلام, ternyata didapati dari 25 para shahabat dinukil dari mereka oleh 30 tabiin dan dinukil dari tabi’in oleh atba’ut tabi’in lebih banyak lagi.
Berkata Abu Thayyib Muhammad Syamsul Haq al‘Adhim Abadiy: “Telah mutawatir berita-berita dari Nabi صلى الله عليه وسلم tentang turunnya Isa عليه السلام dari langit dengan jasadnya ke bumi ketika telah dekat hari kiamat. Ini merupakan madzhab ahlus sunnah. (Aunul Ma’bud, 11/457)
Berkata Syaikh Ahmad Syakir رحمه الله: “Turunnya Isa عليه السلام di akhir zaman adalah perkara yang tidak diperselisihkan sedikit pun oleh kaum muslimin, karena tersebutnya berita-berita yang shahih dari Nabi صلى الله عليه وسلم tentangnya. Ini perkara yang sudah dimaklumi dalam agama secara aksiomatis, dan tidak beriman orang yang mengingkarinya. (Footnote Tafsir ath-Thabari dengan tahqiq Mahmud Syakir, cet. Daarul Ma’arif, Mesir, juz 6 hal. 460)
Berkata Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani رحمه الله: “Ketahuilah bahwa hadits-hadits tentang Dajjal, dan turunnya Isa عليه السلام adalah berita-berita yang mutawatir, waka kita wajib beriman dengannya. Jangan tertipu dengan orang-orang yang menyatakan hadits-hadits tersebut adalah hadits aahaad, karena mereka adalah orang-orang yang bodoh tentang ilmu ini. Tidak ada di antara mereka yang menelusuri dan meneliti hadits-hadits tersebut dengan jalan-jalannya. Kalau saja ada yang mau menelitinya, niscaya dia akan mendapati hadits-hadits tentang ini mutawatir, sebagaimana telah dipersaksikan oleh para ulama seperti Ibnu Hajar dan lain-lainnya.

Sungguh sangat disayangkan munculnya orang-orang yang lancang, terlalu berani berbicara pada perkara-perkara yang bukan pada bidangnya. Apalagi urusannya adalah urusan aqidah dan agama. (Takhrij Syaikh al-Albani terhadap Syarh Aqidah ath-Thahawiyah oleh Ibnu Abil Izzi al-Hanafi, hal. 501)

Para ulama memasukkan masalah turunnya Isa عليه السلام dalam kitab-kitab aqidah dan prinsip-prinsip sunnah yang mereka susun seperti Abu Ja’far ath-Thahawi رحمه الله dalam Aqidah ath-Thahawiyah, Abu Bakar Muhammad bin Husein al-Aajurri رحمه الله dalam asy-Syari’ah dan Imam Ahmad رحمه الله dalam ushuulus Sunnahnya.
Berkata Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wad’iy رحمه الله (ahlul hadits dari negeri Yaman): “Hadits-hadits tentang turunnya Isa عليه السلام dan keluarnya Dajjal menurut para ulama adalah mutawatir. Namun mereka yang menjalani jalannya Jamaluddin, orang Iran yang mengaku afghani, sangat bermudah-mudahan dalam menolak dan mencerca hadits-hadits tersebut atau menyelewengkan maknanya kepada makna lain. Aku peringatkan kepada para penduduk Mesir dan tokoh-tokoh ulama Mesir untuk membersihkan negerinya dari pemikiran-pemikiran liberalis. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberikan taufiq, sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ruduud Ahlul Ilmi, Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wad’i, hal. 25)
Berkata Qadli ‘Iyad رحمه الله: “Turunnya Isa عليه السلام dan dibunuhnya Dajjal olehnya adalah haq dan shahih menurut para ulama ahlus sunnah, karena hadits-hadits yang shahih dalam masalah ini. Dan tidak ada sesuatu pun yang bisa diingkari dalam syari’at maupun dalam akal yang sehat. Maka Wajib menetapkannya. (Lihat Syarh Shahih Muslim oleh Imam Nawawi, jilid 18, hal. 75)

Bantahan terhadap para pengingkar dengan alasan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah penutup para nabi.

Berkata Imam Nawawi رحمه الله: “Perkara ini telah diingkari oleh sebagian mu’tazilah, aliran Jahmiyah dan orang-orang yang mencocoki mereka dengan menganggap bahwa hadits-hadits ini tertolak dengan ayat Allah سبحانه وتعالى:
...وَخَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ. الأحزاب: 40
Dan dia adalah penutup para nabi. (al-Ahzaab: 40)
Dan dengan ucapan Nabi صلى الله عليه وسلم:
لاَ نَبِيَّ بَعْدِي. (رواه مسلم)
Tidak ada nabi setelahku. (HR. Muslim)
Dan dengan ijma’ kaum muslimin bahwa tidak ada nabi setelah nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم. Dan bahwasanya syariat Islam ini kekal sampai hari kiamat dan tidak dimansuhkan (tidak dibatalkan).
Ini adalah pendalilan yang rusak, karena tidaklah yang dimaksud dengan turunnya Isa عليه السلام adalah turun sebagai Rasul yang membawa syariat yang baru, yang memabatalkan syariat kita. Tidak ada dalam hadits-hadits ini maupun yang lainnya dalil yang menunjukkan hal tersebut. Bahkan telah shahih hadits-hadits tersebut dan dalam Kitabul Iman dan lain-lainnya bahwa Nabi Isa عليه السلام turun sebagai hakim yang adil dengan hukum syariat kita. Dan menghidupkan perkara-perkara syariat-syariat kita yang sudah mulai ditinggalkan oleh manusia. (Syarh Shahih Muslim, Imam Nawawi, juz 18, hal. 278)

Imam adz-Dzahabi رحمه الله memasukkan Isa عليه السلام dalam kitabnya Tajridu As-mai ash-Shahabah (tentang nama-nama shahabat Nabi صلى الله عليه وسلم), kemudian beliau berkata: “Isa عليه السلام adalah seorang shahabat dan sekaligus seorang nabi. Karena ia sempat bertemu dan melihat Nabi صلى الله عليه وسلم pada malam Isra’ dan Mi’raj. Maka beliau adalah shahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang paling terakhir wafatnya. (Tajridu Asmai ash-Shahabah Hal. 432; melalui nukilan Yusuf al-Waabil dalam Asyrathu as-Sa’ah, hal. 356)

Berkata Imam al-Qurthubi رحمه الله: “Suatu kaum berpendapat bahwa dengan turunnya Isa عليه السلام berarti akan terangkat beban syariat (nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم –pen.), karena Isa عليه السلام turun sebagai Rasul yang terakhir di zaman tersebut, memerintahkan mereka dengan wahyu dari Allah. maka tentunya yang ini adalah batil dan tertolak karena Allah سبحانه وتعالى menyatakan bahwa Rasulullah adalah penutup para nabi (dalam Q.S. al-Ahzaab ayat 40). Dan juga terbantah dengan hadits: “Tidak ada nabi setelahku” (Shahih Muslim) dan hadits: “Saya adalah penutup” (Shahih Bukhari). Yang dimaksud adalah beliau صلى الله عليه وسلم adalah nabi terakhir dan penutupnya".

Oleh karena itu jangan dianggap bahwa Isa عليه السلام turun sebagai rasul dengan syariat yang baru selain syariat Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Bahkan beliau turun sebagai pengikut Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sebagaimana dikabarkan dalam hadits, ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda kepada Umar رضي الله عنه:
لَوْ كَانَ مُوْسَ حَيًّا مَ وَسِعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِيْ.
Jika saja Isa masih hidup, niscaya tidak ada pilihan lain baginya kecuali mengikutiku.
Maka turunnya Isa عليه السلام dalam keadaan telah mengetahui perintah Allah سبحانه وتعالى sejak di langit sebelum turunnya. Yaitu mengetahui ilmu syariat ini untuk menghukumi di antara manusia dan beramal bagi dirinya. Maka berkumpullah orang-orang beriman mengikutinya dan dia menghukumi mereka dengan syariat Islam. (at-Tadzkirah, hal. 67-68, melalui nukilan Yusuf al-Waabil dalam Asyrathu as-Sa’ah, hal. 360-361).

Bantahan bagi para pengingkar dengan alasan ayat Allah dalam surat Ali Imran ayat 55: Inni Mutawaffiika

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله: “Adapun ucapan Allah سبحانه وتعالى yang menyatakan:
إِذْ قَالَ اللَّهُ يَاعِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا.. ال عمران: 55
Ketika Allah berfirman kepada Isa: “Aku me”’wafat”kanmu dan mengangkatmu kepada-Ku serta mensucikanmu dari orang-orang kafir…(Ali Imran: 55)
bukanlah berarti mematikan Isa عليه السلام , karena kalau yang dimaksudkan adalah kematian, maka berarti Isa sama dengan orang-orang mukmin lainnya, yakni dicabutnya ruh mereka dan dibawanya ke langit. Hal ini berarti Nabi Isa tidak memiliki keistimewaan apapun. Demikian pula ucapan Allah “wa muthahiruka minaladziina kafaru”, kalau ruhnya terpisah dari jasadnya berarti jasadnya tetap di bumi seperti badannya para nabi yang lain…. (Majmu’ Fatawa, juz IV hal. 322-323)

Berarti jasadnya tetap disalib dan dihinakan oleh orang-orang kafir, yang tentunya berarti tidak disucikan dari orang-orang kafir dan ini adalah mustahil. Karena Allah dalam ayat di atas menyatakan “Dan Aku mensucikanmu dari orang-orang kafir”.
Bahkan kalimat wafat dalam bahasa Arab memiliki beberapa makna, karena diambil dari kata-kata qaabiduka yang bermakna menggenggam atau mengambil. Maka bisa bermakna mengambil ruh dan jasadnya (seperti Isa عليه السلام), atau mengambil ruh tanpa jasadnya (yaitu kematian) atau mengambil kesadarannya dalam keadaan ruh dan jasadnya masih di tempatnya (yakni ketika tidur) sebagaimana Allah pergunakan kalimat wafat dalam ayat-ayat berikut:
اللَّهُ يَتَوَفَّى اْلأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا... الزمر: 42
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya …(az-Zu-mar: 42)
وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ...الأنعام: 60)
Dan Dialah yang “menidurkan”mu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari… (al-An’aam: 60)
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله selanjutnya: “…Oleh karena itu berkata para ulama bahwa makna mutawaffiika adalah qaabidluka (mengambil kamu), yakni mengambil ruh dan jasadmu. Tidak mesti lafadz tuwaffa bermakna mengambil ruh saja tanpa jasad. Tidak mesti pula jasad dengan ruh bersama-sama. Keduanya harus dipahami sesuai dengan konteks kalimatnya. (Majmu’ Fatawa, juz IV hal. 323)

Kita katakan: bahwa konteks kalimat dalam ayat tentang Isa عليه السلام di atas sangat jelas. Karena Allah سبحانه وتعالى menyebut seiring dengan kalimat wafat kalimat raafi’uka yang bermakna mengangkatmu.
Ibnu Jarir ath-Thabari menafsirkan makna wafat dalam ayat di atas sebagai berikut: “Yang lebih utama dari pendapat-pendapat ini untuk dikatakan shahih menurut kami adalah ucapan yang berkata bahwa makna mutawaffiika adalah “Aku memegangmu dan mengangkatmu (ruh dan jasadnya) kepada-Ku”, karena mutawatirnya hadits-hadits dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang memberitakan bahwa Isa akan turun dan membunuh Dajjal. (Tafsir ath-Thabari, juz 3, hal. 291)

(Dikutip dari bulletin Manhaj Salaf, Edisi 71/Th. II tgl 15 Jumadi tsani 1426 H/22 Juli 2005M, judul asli Aqidah Para Ulama tentang turunnya Nabi Isa 'alaihissalam, penulis asli Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed)

5 comments:

Anonymous said...

http://dwinoviyanto.multiply.com/journal/item/21
harap boleh baca artikel ini

Anonymous said...

siapa akan bunuh dajjal kalau nabi isa sudah wafat... mungkin orang parsi akan bunuh dajjal.. atau dajjal akan melarikan diri ke segi tiga bermuda sebab takut tengok tentera imam mahdi..

encik bola.com said...

mana ada Nabi isa dah wafat. dia diangkat ke langit. nanti dia akan turun membawa islam setelah islam jadi semakin jahanam. ni pon dah kira jahanam sebab byk artikel mengarut.

Anonymous said...

Mustahil Isa akan mengikuti muhamad! Isa lebih mengatahui tentang hari kiamat dan islam sendiri mengatakan bahawa hanya Allah sahaja mengatahui bila hari kiamat. Kalau Isa mengatahui hari kiamat sudah tentu Dia setaraf dengan Allah...cuba renungkan, betapa jauhnya perbezaan pangkat antara muhamad dengan Isa, seharusnya muhhamad mengikuti Isa! bukan sebaliknya.

adm ABTS2 said...

Anda kena terus membaca dan menyelidik supa faham kebenaran berita ghaib ini.

Berfikirlah dengan hati yang tenang disuluh oleh ilmu. Pembetulan, Nabi Muhammad saw adalah penghulu segala nabi. Nabi Isa sendiri beriman dengan syariat Muhammad. Harap jelas. Saya tahu anon 5.32 bukan pengikut Muhammad. Banyakkan menyelidik jika mahu lihat kebenaran.

Post a Comment

Sila beri pandangan anda, elakkan dari kata nista atau kata-kata di luar peradaban. Pandangan Tulus dari anda amat dihargai, terima kasih.

Recent Posts

Entri di "King of the East"

 
Copyright 2009 abatasa ii. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan